Adik Pelaku Bom Cirebon Divonis 9 Tahun
VIVAnews - Terdakwa Ahmad Basuki atau Uki divonis 9 tahun penjara. Vonis yang diterima adik pelaku bom bunuh diri, M Syarif itu lebih ringan satu tahun dari tuntutan Jaksa 10 tahun penjara.
Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang menilai, Uki terbukti membantu aksi terorisme yang melibatkan kakaknya M Syarif di Masjid Adzikro, Mako Polresta Cirebon beberapa waktu lalu.
Terbukti di persidangan, Uki dan M Syarif berbelanja bahan-bahan bom. Keduanya belajar membuat atau merakit bom, dan akhirnya M Syarif melancarkan aksi bom bunuh diri. Atas vonis yang diterimanya, Ahmad Basuki mengatakan pikir-pikir.
Sementara saat VIVAnews meminta tanggapan atas vonis yang diterimanya, Uki hanya menyebutkan bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Tuhan. "Ila hukmu ila lillah," kata Basuki berteriak.
Terdakwa lainnya Arief Budiman dan Mardiansyah mendapatkan vonis 7 tahun penjara. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa 10 tahun penjara. Arief dan Mardiansyah terbukti ikut dalam aksi terorisme di Cirebon.
Sebelumnya, dua terdakwa terorisme kasus bom bunuh diri di Masjid Alzikro Mapolresta Cirebon dan 8 terdakwa terorisme bom Sukoharja dijatuhi vonis di PN Tangerang. Vonis yang mereka terima bervariasi antara 5 sampai 8 tahun penjara.
Para terdakwa bom Cirebon dan Sukoharjo itu sesuai dakwaan, bahwa mereka melanggar pasal 15 junto 9 UU No 15 tahun 2003 tentang tindak pidana Terorisme. (umi)
Sondang, Pelaku Bakar Diri di Istana Gagal Wisuda
VIVAnews - Mahasiswa semester VII Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Sondang Hutagalung, diduga merupakan pria yang melakukan aksi bakar diri pada Rabu petang 7 Desember 2011 di depan Kompleks Istana Kepresidenan. Meski belum ada kepastian kabar itu, Sondang sedianya sudah diwisuda sejak akhir tahun lalu.
"Dia seharusnya diwisuda sejak 24 November lalu," kata Pembantu Rektor III Universitas Bung Karno, Daniel Panda, saat ditemui di ruang kerjanya, Jakarta Pusat, Jumat 9 Desember 2011.
Tetapi, mengapa mahasiswa yang mendapat beasiswa selama dua kali untuk biaya kuliah satu tahun itu batal diwisuda? Permasalahan terjadi pada tugas akhir Sondang. "Skripsinya belum selesai," ujar Daniel.
Daniel belum mendapat kepastian dari pihak berwenang tentang identitas pria yang nekat membakar diri itu. Bila benar itu mahasiswanya bernama Sondang, Daniel benar-benar tidak menduga.
Menurut Daniel, Sondang dikenal sebagai mahasiswa yang tidak terlalu aktif dan jarang mengikuti kegiatan kampus. Dia datang ke kampus bila mengikuti mata kuliah. Itupun langsung beranjak pergi usai menerima materi kuliah.
"Jujur, kegiatannya tidak terpantau saya. Kalau mahasiswa yang aktivis, saya cukup mengenal," ujar Daniel.
Sebelumnya, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) menduga bahwa pria itu adalah Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno. KontraS mengaku sudah menemui keluarga Sondang Hutagalung.
"Hal yang identik dengan orang yang bernama Sondang dari gigi dan sepatunya. Itu yang disampaikan kekasih Sondang ke polisi," ujar Koordinator KontraS, Haris Azhar, Jumat 9 Desember 2011.
Pelaku Bakar Diri Seorang Mahasiswa?
VIVAnews - Ketua Komisi IX DPR RI, Ribka Tjiptaning menjenguk pria yang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu 7 Desember 2011. Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, kunjungannya ini tidak direncanakan sebelumnya.
"Saya sekalian check up dan menjenguk yang terbakar tadi malam, ini dadakan tidak direncanakan," ujar Ribka di RSCM, Jakarta, Kamis 8 Desember 2011. Ribka datang seorang diri pada pukul 11.50 WIB. Dia mengenakan baju batik.
Ribka menilai aksi nekat pria tersebut dilakukan bukan karena alasan biasa. Menurut dia, pasti ada alasan tertentu yang harus diusut lebih dalam. "Aku lihat ada dua kemungkinan, karena kejenuhan rakyat terhadap pemimpinnya," katanya.
Dia mengatakan, seseorang tidak akan nekat membakar diri di depan Istana jika hanya sekedar beralasan untuk bunuh diri. "Kalau cuma percobaan bunuh diri kenapa harus di depan istana. Ia protes kepada penguasa," ujar Ribka. "Ini ada sesuatu yang harus di gali lebih panjang,"
Ribka juga mengaku sempat bertanya kepada pria itu saat membesuknya. Ribka bertanya, "apakah kamu mahasiswa?". Lantas, kata Ribka, pria yang tergolek di ranjang itu menganggukkan kepalanya.
Entah benar atau tidak pengakuan Ribka yang mengatakan pria ini bisa menganggukan kepala saat dia tanya. Pasalnya, kondisi pria yang melakukan aksi bakar diri ini sedang kritis.
Alat bantu nafas diberikan dokter untuk meningkatkan harapan hidup bagi pria itu. Meski sempat sadar, tapi dokter membuatnya tidak sadar untuk membantu kerja alat bantu nafas.
"Sekarang sudah dibuat tidak sadar, untuk membantu bernafas," kata Dirut RSCM, Prof Akmal Taher, Kamis, 7 Desember 2011.
Kondisi terakhir pria nahas itu pada umumnya masih buruk. Ada masalah lain seperti sistem jantung dan pembuluh darah, dan itu masih diperbaiki. Luka bakar sekitar 97-98 persen dan sulit dikembalikan. Saat ini pria itu masih menjalani perawatan di ruang isolasi khusus luka bakar.
Sebelumnya, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengungkapkan, bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sudah tahu ada aksi bakar diri di depan Istana Presiden, Jakarta. Menurut dia, beberapa saat setelah kejadian, Presiden meminta polisi berkoordinasi dengan rumah sakit. (umi)
Polisi Kenali Pelaku Pembunuh Juara Olimpiade
VIVAnews - Polisi telah mengenali pelaku penusukan terhadap Cristoper Melky Tanujaya (16), siswa asal Singapura yang tewas mengenaskan di halte Transjakarta Pluit Selatan, Penjaringan, Jakarta Utara pada Senin 5 Desember 2011 malam.
Disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Gatot Edi Pramono, beberapa saksi sudah diminta keterangan, pihaknya kini tinggal mencari bukti lain sebelum melakukan penangkapan.
"Kita cari orang yang kita duga, Tapi ini masih dilidik dan belum bisa kita sampaikan. Kalau memang orang itu sebagai pelakunya ya syukur alhamdulillah," kata Gatot, Kamis, 8 Desember 2011.
Dari keterangan saksi, polisi akan membuat sketsa wajah pelaku. Tapi belum dipastikan apakah pelaku mengenal korban. Meski polisi masih yakin bahwa pelaku kenal dengan Cristoper.
"Bisa jadi ingin mengambil harta tapi tidak jadi karena korban teriak dan sebagainya. Kemungkinan-kemungkinan itu ada, tapi akan dipastikan bila sudah ditangkap," kata Gatot.
Penyelidikan kasus ini masih dilakukan. Polda dan Polres Jakarta Utara masih melakukan penyelidikan, dan sedang ditelusuri aktivitas korban mulai dari keluar rumah sampai kejadian penusukan.
Seperti diketahui, Christopher Melky Tanujaya (16), warga Perumahan Taman Grisenda C2, No.8, Kelurahan Kapukmuara, Penjaringan, Jakarta Utara, pertama kali ditemukan oleh Setiohadi Wiratmoko (30), dengan kondisi berlumuran darah di depan Rumah Makan Padang Garuda.
Pria yang diketahui masih mengikuti pendidikan setingkat SMA di Singapura ini, meninggal saat dalam penanganan medis di IGD Rumah Sakit Atmajaya Penjaringan Jakarta Utara.
"Terdapat dua luka tusuk di lehernya," kata Mustofa (33), Satpam Rumah Sakit Atmajaya.
Setiohadi kemudian membawanya ke RS Atmajaya, menggunakan sepeda motor Yamaha Jupiter MX nopol B 6001 UKG. "Saya lihat dia kesulitan memapah korban. Lalu saya bantu dan membawanya ke Ruang IGD," tutur Mustofa. (eh)
Saksi Mahkota Pastikan Pelaku Penusuk Raafi
VIVAnews - Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan memiliki alasan kuat untuk penetapan Febri Awan (FB) sebagai pelaku utama penusukan Raafi Aga Winasaya Benjamin, di Kafe Shy Rooftop, Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Menurut Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Imam Sugianto, ada saksi mahkota yang menguatkan hasil penyidikan. Apakah saksi itu adalah anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres), Kapolres tidak bersedia menjelaskan.
Saksi mahkota itu yang menguatkan alasan dasar polisi menentukan pelaku utama dalam kasus penusukan Raafi. "Saksi mahkota ini bukan siswa Pangudi Luhur. Tapi, saksi itu jelas mengenal pelaku," kata Imam, Rabu, 7 Desember 2011.
Ditambahkan Imam, dari hasi penyidikan diketahui bahwa saksi melihat kejadian penusukan itu. Saat ini masih dicari pisau yang digunakan Febri untuk menusuk Raafi.
"Saksi sempat dititipkan pisau oleh pelaku setelah menghabisi nyawa Raafi. Saksi itu yang sangat membantu penyidikan," kata Imam.
Saksi kata Imam, dengan inisiatif sendiri datang ke kantor polisi dan menceritakan soal senjata yang didapatnya dari pelaku. Saksi adalah teman Febri yang juga datang ke Shy Rooftop.
Satu hari setelah penusukan, Febri kemudian menghubungi saksi tersebut untuk meminta kembali pisaunya.
"Jadi senjata itu dikembalikan lagi ke Febri karena diminta. Bukan saksi itu yang menghilangkan senjatanya, tapi Febri. Kami masih mencari senjata itu sampai sekarang," katanya.
Berdasarkan keterangan dan bukti-bukti yang ada, maka penyidik berkeyakinan bahwa Febri adalah pelaku utama. Meksi beberapa pihak meragukan Febri sebagai pelaku utama.
Dalam kasus ini, sudah ada tujuh tersangka yang ditahan polisi. Mereka adalah Sher Mohammad Febri Awan, Martoga, Helmi, Fajar, Robie Hatim, Connie, dan Abel.
Sebagai pelaku utama, Febri dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 338 KuHP tentang pembunuhan, Pasal 170 KUHP ayat (1) tentang bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang, dan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang. Febri terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Sementara Martoga, Helmi, Fajar, Abel, Robie Hatim, dan Connie dijerat dengan pasal 170 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP dan atau Pasal 55 ayat (1) KUHP. Keenam tersangka ini terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara.
Polisi Umumkan Pelaku Pengeroyok Raafi
VIVAnews - Kepolisian Resor Jakarta Selatan merilis pelaku penusukan terhadap Raafi Aga Winasya Benjamin, 17, siswa kelas XII SMA Pangudi Luhur. Pelaku ditangkap karena polisi menemukan bercak darah. Dari hasil uji laboratorium forensik terhadap noda darah itu, kata polisi, dipastikan merupakan darah Raafi.
Pelaku adalah Fb dan R. Nama Fb, menurut sejumlah saksi, kata Komisaris Besar Imam Sugianto, ada di Shy Rooftop pada saat kejadian. Selain itu, polisi juga merilis tiga tersangka pengeroyok.
"Iya, hari ini semua kami rilis, kami jelaskan motif, peran masing-masing tersangka," ujar Imam, Senin 5 Desember 2011. Para tersangka itu dihadirkan dalam siaran pers ini.
Menurut Imam, rencananya acara mengumumkan para tersangka itu dimulai pukul 11.00 WIB. Tetapi karena ada jadwal dadakan di Polda Metro, maka diundur setelah acara tersebut selesai.
"Kapolres dan Kasat diundang ke Polda Metro Jaya. Tadi juga Kabid Humas Polda Metro sudah datang," kata Kabag Humas Polres Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Aswin.
Seperti diketahui Raafi Aga Winasya Benjamin ditusuk saat menghadiri ulang tahun teman sekolahnya di Shy Rooftop, Kemang, Jakarta Selatan pada 5 November 2011.
Polisi yang terdiri dari tim gabungan Polres Metro Jakarta Selatan dan Polda Metro Jaya sudah menahan lima orang tersangka yang diduga mengeroyok dan menusuk perut Raafi.
Tiga pelaku ditangkap lebih dulu di lokasi berbeda. Yakni T alias M ditangkap di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, FJ di Ancol, Jakarta Utara, dan HL di rumahnya di Jalan Biak, Jakarta Pusat. Dua minggu kemudian polisi kembali menangkap R di Jakarta Selatan, dan FB di kawasan Depok.
Atas perbuatannya, mereka disangkakan pasal 170 KUHP dengan ancaman pidana diatas 5 tahun penjara. Mereka kini mendekam di Rutan Polres Jakarta Selatan. (umi)
• VIVAnews