FRAT Bantah Bakar Kantor Bupati Bima
VIVAnews – Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) mengaku tidak terlibat dalam pembakaran kantor Bupati Bima, Kamis 26 Januari 2012. Insiden itu terjadi di tengah aksi demonstrasi pencabutan Surat Keputusan Nomor 188 Tahun 2010 tentang Izin Usaha Pertambangan.
Keterangan tersebut mereka sampaikan dalam rilis resmi yang disampaikan ke media. Berdasarkan catatan resmi FRAT, saat massa FRAT tiba di kantor Bupati Bima pukul 11.56 Wita pada Kamis itu, sudah ada sekitar 400 massa lain dari Kecamatan Wera dan Kecamatan Ambalawi.
Ke-400 warga Wera dan Ambalawi itu, menurut FRAT, memang sudah sejak pagi menggelar aksi di kantor Bupati Bima, sambil menunggu kedatangan massa FRAT Bima. Saat itu, kantor Bupati Bima sudah dijaga Brimob dan di sekelilingnya dipasang kawat berduri. DI sebelah barat kantor, juga ada barakuda.
Selanjutnya, setiap pimpinan ormas mahasiswa dan pimpinan FRAT tingkat desa dan kecamatan yang tergabung dalam aksi itu, melakukan orasi. Saat itu, mobil komando dua massa – baik massa FRAT maupun massa Wera dan Ambalawi – berada di tempat yang sama, yakni di depan gerbang kantor Bupati Bima yang terletak di sebelah barat.
Kemudian, mobil komando dari massa Wera dan Ambalawi berpindah ke sebelah timur. Pukul 12.53 Wita, massa FRAT Bima masuk ke kantor Bupati Bima dari arah timur.
“Sekitar 10 menit kemudian, di sebelah barat tiba-tiba ada lemparan ke Pos Jaga Pol PP, yang diiringi (lemparan) ke arah kantor Bupati Bima hingga ada kepulan asap,” papar FRAT Bima dalam rilis pers yang diterima VIVAnews, Sabtu 28 Januari 2012.
Saat ini, menurut FRAT, sejumlah pimpinan FRAT Bima, antara lain Adi Supriyadi dan Ansari, ditahan oleh kepolisian.
Pelayanan Terganggu
Dampak dari terbakarnya kantor Bupati Bima, pelayanan administrasi di Kabupaten Bima pun terganggu. Ratusan Pegawai Negeri Sipil yang bertugas di Pemerintah Kabupaten Bima, NTB, kemarin menganggur.
Para pegawai itu duduk-duduk di luar reruntuhan gedung kantor mereka. Sebagian di antara mereka akhirnya pulang lebih awal karena tidak bisa mengerjakan apa-apa.
Jumat 27 Januari 2012 kemarin, Wakil Gubernur NTB Badrul Munir meminta pelayanan masyarakat di Kabupaten Bima tetap dibuka. Pemerintah Provinsi NTB juga mengutus Sekretaris Daerah NTB Muhammad Nur untuk melihat langsung kondisi di Bima.
“Kami sudah mengutus Sekda NTB ke Bima. Tentu aktivitas di sana terganggu. Namun kami minta agar pelayanan langsung ke masyarakat tetap berjalan dengan baik,” kata Badrul Munir.
Secara terpisah, Delian Lubis, salah satu koordinator lapangan dari ormas mahasiswa LMND yang juga tergabung dalam aksi di Bima, 27 Januari 2012, mengatakan pihaknya masih melakukan konsolidasi untuk aksi selanjutnya.
Menurutnya, massa saat ini masih menunggu respons Bupati Bima Fery Zulkarnaen atas tuntutan warga terkait SK Izin Usaha Pertambangan. “Kami masih berkonsolidasi untuk sikap selanjutnya. Kami berharap Bupati Bima merespons tuntutan rakyat,” kata Delian Lubis yang juga Ketua Liga Mahasiswa Nasional Demokrat Bima. (ren)
• VIVAnewsUBK: Kami Tunggu Tes DNA Pria Bakar Diri
VIVAnews - Sondang Hutagalung diduga merupakan pria yang melakukan aksi bakar diri di depan Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu petang 7 Desember 2011 lalu. Di kampus Universitas Bung Karno terdaftar nama Sondang Hutagalung.
"Sondang merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Dia mahasiswa semester VII," kata Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Bung Karno, Daniel Panda, saat ditemui di ruang kerjanya, Jakarta Pusat, Jumat 9 Desember 2011.
Menurut Daniel, pihak kampus belum mendapat kepastian dari pihak berwenang manapun yang menyebut bahwa pelaku bakar diri itu merupakan mahasiswanya. Pihak universitas belum bisa bercerita banyak tentang kepastian identitas pria yang membakar diri di depan Istana itu.
"Kami menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada kepolisian. Kami tunggu tes DNA dulu," ujar Daniel.
Bila kabar itu benar, Daniel benar-benar tidak menduga. "Kami benar-benar kaget dan tidak menyangka," kata dia.
Hingga kini, polisi dan RS Cipto Mangunkusumo belum memberikan kepastian identitas pria misterius itu. Tetapi, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, menduga, pria itu adalah Sondang Hutagalung.
"Namanya Sondang, dia mahasiswa Fakultas Hukum," kata Haris saat dihubungi VIVAnews.com, Jumat 9 Desember 2011. Semalam Kontras sudah melakukan dialog dengan pihak yang mengaku keluarga.
Keluarga itu juga sudah mendatangi RS Cipto Mangunkusumo. "Untuk kepastiannya kami masih menunggu hasil tes DNA korban dan keluarga," ujar Haris. Menurut Haris, dia sering melihat pria ini karena kerap datang ke kantor KontraS saat ada aksi. (eh)
Sebelum Bakar Diri, Sondang Titip HP ke Pacar
VIVAnews - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) sedang mengumpulkan data untuk mengungkap motivasi aksi bakar diri yang diduga kuat dilakukan Sondang Hutagalung, Rabu, 7 Desember 2011 lalu.
"Belum terlalu banyak, tapi masih mencoba identifikasi. Mencocokan beberapa hal, dan terus berkomunikasi dengan keluarga," kata Koordinator Kontras, Haris Azhar, Jumat, 9 Desember 2011.
Ditambahkan Chrisbiantoro, Staff Divisi Advokasi Kontras, sebelum ada aksi bakar diri, telepon genggam Sondang dititipkan kepada kekasihnya dan diserahkan kepada keluarganya. Selain itu, ada juga dompet yang berisi identitas.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, gigi dan kaki korban bakar diri identik dengan Sondang. Sepatu model security pemberian kakaknya juga mirip yang dikenakan pria korban bakar diri.
"Dari situ keluarga yakin kalau itu Sondang. Sudah tiga hari ini dia menghilang dari rumah," katanya.
Pada Rabu, 7 Desember 2011, seorang yang diduga Sondang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Negara, Jakarta, sekitar pukul 17.30 WIB.
Menurut Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung S Rajab, dia bukan bagian dari pengunjuk rasa Kepala Desa di Istana Negara yang sudah bubar sejak pukul 16.00 WIB.
Lelaki itu terlihat menyeberang jalan dari arah Medan Merdeka Barat ke depan Monumen Nasional (Monas). Saat bersama terlihat kepulan asap dari tubuh pria tadi.
Secara kebetulan, masih ada empat petugas yang melakukan penjagaan dan kemudian melakukan pertolongan. Tubuh pria itu ditutupi jaket dan disiram dengan air. Ternyata masih hidup. Pria tersebut lantas dilarikan ke ruang UGD RSCM sekitar pukul 18.00 WIB.
Kondisi lelaki itu kini masih kritis. Tubuhnya 90 persen hangus, dan kata dokter, hanya sedikit orang bisa bertahan hidup dengan luka bakar seberat itu.
Lelaki bertubuh tinggi 170 sentimeter itu membakar dirinya setelah mengguyur tubuh dengan bensin, dan menyulut api ke badannya. Aksi itu dilakukan sekitar pukul 17.30. Sejam sebelumnya, di tempat itu para kepala desa melakukan unjuk rasa.
Motif di balik aksi bakar diri ini masih terus diselidiki. Tak ada pesan yang jelas, apa keinginan pria yang ditaksir berusia 40 tahun itu berlari ke arah istana saat api membakar tubuhnya. (eh)
Pria Bakar Diri, Sondang Raih Beasiswa 2 Kali
VIVAnews - Universitas Bung Karno belum mendapat kepastian identitas pria yang membakar diri di depan Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu petang 7 Desember 2011. Diduga pria itu adalah Sondang Hutagalung, mahasiswa Fakultas Hukum UBK semester VII.
Meski belum ada kepastian, Pembantu Rektor III Universitas Bung Karno, Daniel Panda, berkenan membeber sedikit tentang mahasiswanya yang bernama Sondang Hutagalung. Menurut Daniel, Sondang merupakan mahasiswa yang cerdas.
"Dari sisi akademis berprestasi. Dia mendapatkan beasiswa sebanyak dua kali," kata Daniel saat ditemui di ruang kerjanya, Jakarta Pusat, Jumat 9 Desember 2011.
Atas beasiswa sebanyak dua kali itu, Sondang bebas biaya kuliah selama satu tahun. Tidak perlu bayar alias gratis.
Dugaan identitas pria itu adalah Sondang disampaikan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS). KontraS sudah menemui keluarga Sondang Hutagalung.
"Hal yang identik dengan orang yang bernama Sondang dari gigi dan sepatunya. Itu yang disampaikan kekasih Sondang ke polisi," ujar Koordinator KontraS, Haris Azhar, Jumat 9 Desember 2011.
Sondang, Pelaku Bakar Diri di Istana Gagal Wisuda
VIVAnews - Mahasiswa semester VII Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Sondang Hutagalung, diduga merupakan pria yang melakukan aksi bakar diri pada Rabu petang 7 Desember 2011 di depan Kompleks Istana Kepresidenan. Meski belum ada kepastian kabar itu, Sondang sedianya sudah diwisuda sejak akhir tahun lalu.
"Dia seharusnya diwisuda sejak 24 November lalu," kata Pembantu Rektor III Universitas Bung Karno, Daniel Panda, saat ditemui di ruang kerjanya, Jakarta Pusat, Jumat 9 Desember 2011.
Tetapi, mengapa mahasiswa yang mendapat beasiswa selama dua kali untuk biaya kuliah satu tahun itu batal diwisuda? Permasalahan terjadi pada tugas akhir Sondang. "Skripsinya belum selesai," ujar Daniel.
Daniel belum mendapat kepastian dari pihak berwenang tentang identitas pria yang nekat membakar diri itu. Bila benar itu mahasiswanya bernama Sondang, Daniel benar-benar tidak menduga.
Menurut Daniel, Sondang dikenal sebagai mahasiswa yang tidak terlalu aktif dan jarang mengikuti kegiatan kampus. Dia datang ke kampus bila mengikuti mata kuliah. Itupun langsung beranjak pergi usai menerima materi kuliah.
"Jujur, kegiatannya tidak terpantau saya. Kalau mahasiswa yang aktivis, saya cukup mengenal," ujar Daniel.
Sebelumnya, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) menduga bahwa pria itu adalah Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno. KontraS mengaku sudah menemui keluarga Sondang Hutagalung.
"Hal yang identik dengan orang yang bernama Sondang dari gigi dan sepatunya. Itu yang disampaikan kekasih Sondang ke polisi," ujar Koordinator KontraS, Haris Azhar, Jumat 9 Desember 2011.
Tes DNA Pria Bakar Diri Diumumkan Sore Ini
VIVAnews - Sudah tiga hari ini Sondang Hutagalung tidak pulang ke rumah. Keluarga yakin kepergian mahasiswa Universitas Bung Karno ini tidak sedang bermasalah dengan keluarga. Kaluarga kaget tiba-tiba Sondang dikabarkan pelaku bakar diri.
"Keluarga tidak mengetahui motifnya. Keluarga bilang tidak ada masalah, masih ke gereja. Dengan pacar juga tidak ada masalah. Dia selalu ingin berbuat sesuatu yang berguna untuk orang lain," kata Chrisbiantoro, Staff Divisi Advokasi Kontras, Jumat, 9 Desember 2011.
Ditambahkan Chrisbiantoro, meski belum dapat dipastikan kalau korban adalah Sondang, tapi polisi juga sudah mengeluarkan inisial SH sebagai pria pelaku aksi bakar diri di Istana Negera, Rabu, 7 Desember 2011 lalu.
"Sudah dua hari ini keluarga berada di RSCM, dan sesuai rencana hasil tes DNA akan diumumkan sore ini," katanya.
Apapun tanggapan banyak pihak, tapi Kontras menolak bila aksi yang dilakukan Sondang untuk mencari sensasi. Karena itu, pemerintah diminta untuk memperhatikan permasalah ini karena banyak masalah yang tidak terselesaikan sebelumnya.
Sementara itu, kondisi lelaki yang nekad bakar diri itu masih kritis. Tubuhnya 90 persen hangus, dan kata dokter, hanya sedikit orang bisa bertahan hidup dengan luka bakar seberat itu.
Dia membakar dirinya setelah mengguyur tubuh dengan bensin, dan menyulut api ke badannya. Aksi itu dilakukan sekitar pukul 17.30. Sejam sebelumnya, di tempat itu para kepala desa melakukan unjuk rasa.
Motif di balik aksi bakar diri ini masih terus diselidiki. Tak ada pesan yang jelas, apa keinginan pria yang ditaksir berusia 25 tahun itu berlari ke arah istana saat api membakar tubuhnya.