Showing posts with label Masih. Show all posts
Showing posts with label Masih. Show all posts

Jelang Tahlilan, Rumah Angie Masih Sepi

VIVAnews - Hingga kini, politisi Demokrat, Angelina Sondakh belum mau berkomentar soal status tersangka yang disandangnya. Seperti diketahui, Puteri Indonesia 2001 tersebut resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus proyek wisma atlet oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat, 3 Februari 2012.

Sejumlah wartawan terlihat menunggu di luar kediaman Angelina di kawasan Cilandak, pada Minggu, 5 Februari 2012. Angelina rencananya akan menggelar acara Tahlilan satu tahun meninggalnya sang suami, Adjie Massaid, sore ini.

Berdasarkan pantauan VIVAnews.com, belum ada aktivitas berarti di rumah Angelina. Namun, meja putih untuk menerima tamu sudah terlihat di teras rumahnya.

Pagar setinggi 2 meter dan pintu rumahnya masih tertutup rapat. Hanya pintu garasi saja yang sedikit terbuka untuk keluar masuk tukang cat yang tengah mengecat bagian atap rumah Angie - sapaan akrab Angelina. Bahkan, tak satu mobil pun tampak di depan rumah mewahnya.

Angelina Sondakh baru berbicara mengenai status tersangka yang disandangnya di akun Twitter. (Lihat tanggapan Angelina di sini)

• VIVAnews

READ MORE - Jelang Tahlilan, Rumah Angie Masih Sepi

Saan: Dinamika di Demokrat Masih Wajar

VIVAnews - Wakil Sekjen DPP Demokrat, Saan Mustofa, menyatakan partainya sama sekali tidak memikirkan polemik yang muncul terkait rapat Dewan Pembina Demokrat di Cikeas beberapa hari lalu.

Saan menegaskan bahwa rapat tersebut hanya mekanisme rutin dan tidak ada membahas Anas Urbaningrum secara khusus. Oleh karena itu, Saan membantah anggapan miring di berbagai pemberitaan bahwa Dewan Pembina partainya meminta Anas untuk mundur dari jabatan Ketua Umum DPP Demokrat.

"Belum pernah ada permintaan supaya Anas mundur," ujar Saan dalam diskusi Polemik Sindo Radio di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu 27 Januari 2012.

Saan mengakui bahwa partainya menyadari serangan opini yang muncul terkait pemberitaan belakangan ini amat menyandera dan dapat merugikan citra dan peran partai di tengah masyarakat. Oleh karena itu partainya berupaya keluar dari situasi itu dan tak mau terlarut.

Terkait adanya perbedaan pandangan diantara Dewan Pembina dalam mencari jalan keluar atas situasi dan kondisi yang menimpa partai, menurut Saan, dinamika kader yang biasa dan wajar saja.

"Bahwa ada persoalan terkait berbagai opini yang muncul, itu iya. Adanya perspektif yang berbeda diantara Dewan Pembina adalah dinamika kader partai, menurut saya itu masih dalam batas kewajaran," kata Saan. (ren)

• VIVAnews

READ MORE - Saan: Dinamika di Demokrat Masih Wajar

RSCM Pastikan Pria Bakar Diri Masih Hidup

VIVAnews - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memastikan pria pelaku aksi bakar diri di depan Istana Negara, masih dalam penangan tim dokter. Meski kondisinya kritis, tapi pria itu belum meninggal.

"Belum (meninggal), wah gawat ini, masih dites DNA-nya," kata Dirut RSCM, Akmal Taher kepada wartawan, Jumat malam, 9 Desember 2011.

Kabar meninggalnya pria yang diduga Sondang Hutagalung, juga adi bantah Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Universitas Bung Karno, Daniel Panda. "Isu meninggal itu tidak benar, saya sedang di RSCM bersama kakaknya," kata Daniel

Sebelumnya Daniel menegaskan Sondang merupakan mahasiswa UBK angkatan 2007 Fakultas Hukum. Saat ini, Sondang sedang menyelesaikan skripsinya.

Kabar meninggalnya Sondang sempat membuat kaget keluarga. Dalam berita di salah satu media online, disampaikan bahwa pria yang diduga Sondang itu sudah meninggal sekitar pukul 18.45 WIB.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Untung S Rajab, juga ikut memastikan kalau pria nekad yang membahasi tubuhnya dengan bensin sebelum membakar diri kondisinya masih kritis

Sementara itu, secara hukum belum bisa dipastikan bahwa pria itu adalah Sondang, karena masih harus menunggu tes DNA. Meski sudah ada laporan dari keluarga, polisi masih harus memasatikan dari uji laboratorium.

"Secara kedokteran kehakiman kita belum berani mengatakan siapa pria itu. Ada proses, dan tes DNA juga belum keluar." (adi)

• VIVAnews

READ MORE - RSCM Pastikan Pria Bakar Diri Masih Hidup

Foke: Manajemen Banjir di DKI Masih Buruk

VIVAnews - Kerjasama antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dinilai masih buruk, untuk menangani banjir Jakarta. Karena itu, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, kecewa dengan koordinasi antar wilayah dan sektor yang dilakukan bawahannya itu.

"Banyak yang tidak sinkron, dan perlu dikaji dan diikuti dengan langkah koordinasi. Kalau perlu ubah struktur dan fungsi," kata Fauzi Bowo, di Balaikota DKI Jakarta, Senin, 5 Desember 2011.

Pengerjaan rehabilitasi saluran air di sepanjang Jalan Sudirman contohnya. Menurut Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, kerjasama antar wilayah dengan dinas serta Ditlantas Polda Metro Jaya harus lebih ditingkatkan.

"Pengawasannya juga harus ketat. Jangan ada pihak yang memberi kerjaan [proyek], ikut mengawasinya juga. Justru itu merupakan kelemahan dalam manajemen," ujar gubernur.

Tidak Sinkron

Kurangnya kerja sama ini juga dibenarkan pula Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fadjar Pandjaitan. Menurutnya, kondisi kerja membuat suasana kerja di lapangan menjadi tidak baik.

"Masing-masing SKPD sudah ada tupoksinya, hanya tinggal barangkali bagaimana mengkoordinasikan itu oleh masing-masing pimpinan, bahwa di lapangan masih terjadi ketidaksinkronan itulah yang mesti diperbaiki oleh kita," ungkapnya.

Sesuai arahan dari Gubernur DKI Jakarta dalam rapat pimpinan yang memanggil lima Walikota DKI Jakarta ini, masing-masing SKPD dan Walikota secara berjenjang akan diawasi dan diberi arahan.

"Ini dilakukan supaya koordinasi-koordinasi di lapangan, termasuk penanganan masalah banjir berjalan baik," tutur Fadjar.

Peningkatan koordinasi ini juga dilakukan terkait program penuntasan 62 titik genangan air.

"Jadi tadi Pak Gubernur juga menyontohkan menangani gorong-gorong Sudirman. Terkesan seperti tidak ada koordinasi yang menimbulkan kerawanan, kemacetan," kata Fadjar. (ren)
 

• VIVAnews

READ MORE - Foke: Manajemen Banjir di DKI Masih Buruk

Masih Kacau, Penumpang Ancam 'Serbu' KAI

VIVAnews - Komunitas pengguna kereta Jabodetabek, KRL Mania, menilai uji coba pola baru rute KRL pada hari pertama kacau. Kekacauan dilihat banyaknya penumpang yang menunggu terlalu lama di stasiun transit.

Juru bicara KRL Mania, Agam Fatchurrochman, mengatakan jika tak diatasi, tidak menutup kemungkinan hari ini para penumpang akan 'menyerbu' lagi petugas PT Kereta Api atau PT KA Commuter Jabodetabek di Stasiun Manggarai.
      
Untuk mengatisipasi hal ini, KRL Mania berharap PT KA dapat menambah kereta feeder, mulai Duri (melayani Tangerang), Tanah Abang (melayani Serpong), Manggarai (melayani Bekasi dan Bogor/Depok).

"Selain itu, perbaiki SOP pemberian informasi. KAI atau KCJ membuat hotline melalui twitter, facebook, sms, BBM untuk setiap deviasi dari jadwal," kata Agam kepada VIVAnews.com.

Menurutnya, kekacauan bukan karena ketidakpahaman penumpang, tapi ketidakmampuan PT KAI dan KCJ menyusun jadwal yang sesuai kebutuhan dan menjaga konsistensi penerapan.

Kepala Humas PT Kereta Api Daop I, Mateta Rijalulhaq, menjelaskan bahwa meski dikeluhkan, pihaknya tetap melanjutkan uji coba hingga 4 Desember 2011 mendatang.

Menurutnya kecauan terjadi karena penumpang belum terbiasa dengan pola baru ini. "Mengubah rutinitas atau kebiasaan itu tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Penumpang yang tadinya tidak terbiasa transit, sekarang harus turun untuk berganti kereta," ucap Mateta.

Dia menjamin segala keluhan penumpang akan ditampung dan divealuasi. Seperti penambahan satu perjalanan kereta dari Bekasi pada pukul 7.00 WIB.

Supaya penumpang tidak bingung, Mateta menyarankan agar penumpang dapat menyesuaikan jadwal yang ada, serta memperhatikan pengumuman di stasiun.

• VIVAnews

READ MORE - Masih Kacau, Penumpang Ancam 'Serbu' KAI

Polda: Kasus Suporter Tewas Masih Lanjut

AppId is over the quota

VIVAnews - Polisi masih melakukan penyelidikan terkait kematian dua suporter Timnas Indonesia yang tewas terinjak-injak dalam laga final SEA Games melawan Malaysia.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar mengatakan, kasus meninggalnya dua suporter tetap dilanjutkan. Pemeriksaan terhadap panitia penyelenggara sudah dilakukan.

"Penyelidikan tetap dilanjutkan, dan secara lisan pihak INASOC sudah diperiksa. Tapi secara pro yutistia belum," ujar Baharudin, Rabu 30 November 2011.

Sejauh ini, polisi belum menemukan unsur kelalaian dari penyelenggara terhadap kasus tersebut. Kasus ini berbeda dengan kasus ricuh antrean pembelian BlackBerry di Pasific Place beberapa waktu lalu.

Perbedaannya, kata dia, jika di GBK polisi sudah antisipasi sejak awal, jadi kami sudah memperdiksi banyaknya masyarakat yang akan datang ke tempat itu. Tapi kalau yang antrean Blackberry, tidak dijelaskan secara rinci berapa jumlah orang yang akan menghadiri acara itu.

Sebelumnya, INASOC sebagai pihak penyelenggara sudah mengakui lalai terkait penjualan tiket final SEA Games. Ditemukan banyak tiket palsu sehingga penonton yang datang sangat banyak.

Menurut Sekertaris INASOC DKI Jakarta, Ratiyono, pihaknya kecolongan dalam pembuatan tiket. Tidak tertutup kemungkinan tiket yang seharusya dicetak sebanyak 64.000 lembar itu dipalsukan. Pasalnya dalam pembuatan tiket, polisi sama sekali tidak dilibatkan.

Seharusnya untuk tiket itu dikoordinasikan dan disesuaikan dengan kapasitas. Rumusnya, paling tidak tiket yang terjual jangan melebihi kapasitas. Sehingga tidak terjadi antrean panjang.

Seperti diketahui, ratusan ribu suporter Indonesia memadati Stadion Utama Geora Bung Karno dalam laga final melawan Malaysia.

Tidak semua suporter timnas bisa masuk ke  stadion. Aksi suporter yang menerobos pintu di sektor 15 terjadi. Beberapa orang mengalami luka dan dua orang di antaranya meninggal dunia karena terinjak-injak.

Kedua korban adalah Reno Alpino, 21, warga Cililitan, Jakarta Timur dan Aprilianto Eko asal Tangerang, Banten.  (adi)

• VIVAnews

Peliculas Online

READ MORE - Polda: Kasus Suporter Tewas Masih Lanjut