Showing posts with label Buruk. Show all posts
Showing posts with label Buruk. Show all posts

Cuaca Buruk, Garuda Gagal Mendarat di Bali

VIVAnews – Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 406 jurusan Jakarta-Denpasar gagal mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Sabtu 21 Januari 2012. Akibatnya, pesawat yang di dalamnya terdapat artis Marcella Zalianty itu dialihkan ke Surabaya.

Pesawat yang sedianya mendarat sekitar pukul 14.00 WITA itu dialihkan, karena cuaca buruk. Hal itu dibenarkan Humas Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai, Bali, Sherly Yunita.

Menurut dia, keputusan pesawat untuk dialihkan ke Surabaya karena faktor cuaca yang tak memungkinkan bagi pesawat untuk mendarat.

“Ya benar, karena karena faktor cuaca. Akhirnya pesawat itu divert ke Surabaya,” kata Sherly. Keputusan untuk mengalihkan pendaratan ke Surabaya dilakukan sesaat sebelum pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai.

“Jadi, pesawat divert ke Surabaya sebelum landing. Bukan sesaat setelah landing lantas take off lagi,” ujar dia.

Marcella Zalianty sendiri sedianya akan menggelar jumpa pers bersama panitia Festival Film Dokumenter Bali 2012. Namun, lantaran peristiwa itu, panitia memutuskan untuk melanjutkan acara tanpa kehadiran peraih pemeran perempuan terbaik FFI tahun 2005 itu. (art)

• VIVAnews

READ MORE - Cuaca Buruk, Garuda Gagal Mendarat di Bali

Cuaca Buruk, 300 Nelayan di NTB Menganggur

VIVAnews - Sekitar 300 nelayan di Ampenan, Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) terpaksa 'menggantung' jala alias menganggur menyusul cuaca buruk dan gelombang laut yang meninggi.  Mereka tidak berani mencari ikan di cuaca seperti itu.

Deretan perahu berbagai jenis terparkir rapi di Pantai Ampenan, Senin 16 Januari 2012. Beberapa nelayan tampak memperbaiki jaringnya. Ada juga yang sibuk merapikan perabotan rumah mereka untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya gelombang tinggi.

Jalaluddin (35) nelayan setempat mengaku sudah tiga minggu tidak melaut. Bahkan dia terpaksa mengistirahatkan perahunya agar tidak rusak terhempas gelombang. "Cuaca buruk pada tahun ini lebih susah diprediksi dibanding tahun lalu," kata dia.

Untuk menopang biaya hidup sekeluarga, bapak dua anak ini terpaksa mengandalkan uang pinjaman dari tetangga atau kerabat dekat.

Lain halnya dengan Tahar (65) yang sudah tergolong sebagai nelayan tua di kawasan itu. Tahar mengaku baru saja tiba dari Nusa Dua Bali untuk mencari ikan. Namun hingga hari ini hanya sedikit ikan yang berhasil dijaringnya.

Angin kencang menjadi kendala untuk memperoleh tangkapan ikan terutama ikan tongkol. Padahal akhir tahun lalu, Tahar masih berhasil menangkap banyak ikan di sekitar perairan Lombok dan Bali.

Tahar mengatakan keberanian dan insting nelayannya menjadi salah satu modal utama untuk dapat bertahan hidup selama berada di tengah laut. Lagipula kakek yang baru memiliki seorang cucu ini pernah punya pengalaman pahit selama melaut.

Pada bulan-bulan biasa, lanjut Tahar, dia bisa  mengantongi Rp3 juta sehabis menjual hasil tangkapannya di laut. Karena menganggur, Tahar dan istri terpaksa menguras tabungan dan menggadaikan sejumlah perhiasan untuk menopang kebutuhan hidup selama cuaca buruk.

Meski begitu, terkadang Tahar dan sejumlah rekannya sesama nelayan terpaksa harus mengumpulkan uang Rp150 ribu untuk membeli bahan bakar mesin perahu. Tahar juga memberanikan diri untuk tetap melaut untuk menutupi kebutuhan rumah tangga mereka.

Sementara itu Anggi Dewita dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika NTB menjelaskan curah hujan dengan kapasitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di NTB. Kecepatan angin rata-rata 20 kilometer/jam dan maksimal 28 kilometer/jam. "Sedangkan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 0,6-1,5 meter. Meski begitu diharapkan bagi nelayan untuk berhati-hati," kata Anggi.

Kondisi itu menurutnya disebabkan oleh angin Barat yang melanda sejumlah kawasan di NTB. Bahkan cuaca seperti ini akan terus terjadi hingga empat bulan ke depan. Dia mengimbau agar masyarakat tetap waspada mengingat terjadi perubahan cuaca.

Laporan: Edy Gustan | Mataram, eh

• VIVAnews

READ MORE - Cuaca Buruk, 300 Nelayan di NTB Menganggur

Foke: Manajemen Banjir di DKI Masih Buruk

VIVAnews - Kerjasama antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dinilai masih buruk, untuk menangani banjir Jakarta. Karena itu, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, kecewa dengan koordinasi antar wilayah dan sektor yang dilakukan bawahannya itu.

"Banyak yang tidak sinkron, dan perlu dikaji dan diikuti dengan langkah koordinasi. Kalau perlu ubah struktur dan fungsi," kata Fauzi Bowo, di Balaikota DKI Jakarta, Senin, 5 Desember 2011.

Pengerjaan rehabilitasi saluran air di sepanjang Jalan Sudirman contohnya. Menurut Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, kerjasama antar wilayah dengan dinas serta Ditlantas Polda Metro Jaya harus lebih ditingkatkan.

"Pengawasannya juga harus ketat. Jangan ada pihak yang memberi kerjaan [proyek], ikut mengawasinya juga. Justru itu merupakan kelemahan dalam manajemen," ujar gubernur.

Tidak Sinkron

Kurangnya kerja sama ini juga dibenarkan pula Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fadjar Pandjaitan. Menurutnya, kondisi kerja membuat suasana kerja di lapangan menjadi tidak baik.

"Masing-masing SKPD sudah ada tupoksinya, hanya tinggal barangkali bagaimana mengkoordinasikan itu oleh masing-masing pimpinan, bahwa di lapangan masih terjadi ketidaksinkronan itulah yang mesti diperbaiki oleh kita," ungkapnya.

Sesuai arahan dari Gubernur DKI Jakarta dalam rapat pimpinan yang memanggil lima Walikota DKI Jakarta ini, masing-masing SKPD dan Walikota secara berjenjang akan diawasi dan diberi arahan.

"Ini dilakukan supaya koordinasi-koordinasi di lapangan, termasuk penanganan masalah banjir berjalan baik," tutur Fadjar.

Peningkatan koordinasi ini juga dilakukan terkait program penuntasan 62 titik genangan air.

"Jadi tadi Pak Gubernur juga menyontohkan menangani gorong-gorong Sudirman. Terkesan seperti tidak ada koordinasi yang menimbulkan kerawanan, kemacetan," kata Fadjar. (ren)
 

• VIVAnews

READ MORE - Foke: Manajemen Banjir di DKI Masih Buruk