SBY: Atasi Massa, Jauhkan Peluru
VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan jajaran kepolisian tidak menggunakan peluru untuk membubarkan massa. Seberapapun beringasnya massa, kata SBY, mereka adalah rakyat Indonesia yang harus diayomi.
"Jauhkan peluru dan jangan mudah gunakan peluru, yakinkan itu," kata Yudhoyono di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Selasa 17 Januari 2012.
SBY menegaskan Kepala Kepolisian harus bisa memastikan itu. Seorang jenderal polisi bisa memeriksa laras anggotanya dan memastikan tidak berisi peluru tajam. "Tidak dilarang seorang jenderal periksa laras senjata anggota Polri sebagaimana jajaran TNI memeriksa senjata yang dipegang prajuritnya," ujarnya.
Dalam kondisi aksi massa berujung rusuh, kepolisian justru harus bisa memastikan tidak ada jatuh korban jiwa. Mengatasi aksi massa harus dibedakan dengan mengatasi perompakan ataupun terorisme. Saudara bukan hanya self defense. Itu pun kalo bisa dilumpuhkan dengan tanpa korban jiwa," kata dia.
Dalam kesempatan itu, Yudhoyono mengungkapkan realitas saat ini dalam demokrasi --di mana perkembangan teknologi berkembang pesat-- penanganan gangguan kamtibmas semakin kompleks. "Yang ingin saya angkat bagaimana cara menjaga keamanan dalam negeri dan keamanan ketertiban masyarakat di era sekarang ini," katanya.
Yudhoyono mengulas, pendekatan kamtibmas sebelum dan pasca-reformasi 1998 yang dia nilai berbeda. Di era sebelum 1998, pendekatan apapun seolah dibenarkan demi menjaga stabilitas. "Militer dan polisi bersama jaga kamtibmas. Cara yang dilakukan bisa terbuka dan tertutup, pers bisa dikontrol jangan terlalu gaduh karena ini demi kepentingan stabilitas nasional," kata dia.
Setelah reformasi, cara seperti itu tidak bisa diterapkan lagi. Dengan tugas dan tujuan yang sama dengan di atas, penegak keamanan memilih cara yang akuntabel sesuai hukum dan nilai demokrasi.
Kebebasan dan HAM
Kamtibmas kini menjadi domain tanggung jawab dan tugas kepolisian. Hanya dalam keadaan tertentu, TNI ditugaskan bantu Polri. Yudhoyono mengungkapkan, tantangan dan masalah yang dihadapi di era demokrasi dan keterbukaan ini adalah isu kebebasan dan hak asasi. "Sesekali terjadi ekses kebablasan," katanya.
Contohnya: penggunaan kebebasan yang keliru, sampai membakar, merusak. Media, menurut SBY, memiliki faktor pengaruh termasuk sosial media yang kerap menyulut emosi dan tindakan yang berlebihan dari masyarakat.
"Kalau ada isu yang menyebar, dan belum tentu benar, dengan cepat membakar emosi rakyat kita," katanya.
Ada juga ekses politik yang mudah mengalir ke tingkat akar rumput masyarakat luas, yang juga bisa timbulkan benturan. Sementara itu, kata dia, tuntutan dan aspirasi masyarakat --disamping diwujudkan dalam unjuk rasa-- seringpula diikuti aksi yang tak tertib dan merusak.
"Yang bisa diberikan Polri dalam tegakkan ketertiban publik, pertama, kamtibmas tetap terjaga alias gangguan kamtibmas tak boleh dibiarkan. Jangan biarkan di negeri ini, rakyat cemas, dan takut karena setiap saat bisa terjadi kekerasan perusakan main hakim sendiri," kata dia. Kedua, perusuh perusak dan pelaku kekerasan horizontal tetap harus ditindak. (eh)
0 Responses to “SBY: Atasi Massa, Jauhkan Peluru”
Post a Comment