Tahun 2018, Ada 1.140 Kereta di Jakarta
VIVAnews - PT Kereta Api (KA) segera membangun tempat parkir kereta. Ketersediaan fasilitas ini dirasa begitu mendesak agar kereta-kereta yang akan didatangkan dari Jepang tidak terbengkalai. Beberapa titik telah disiapkan untuk dijadikan tempat parkir kereta.
"Kebutuhan parkir kereta ini sangat mendesak. Karena tiap tahun akan terus ada tambahan kereta," kata Kepala PT. KA Daops I Jakarta, Purnomo Radiq, di Jakarta, Jumat, 9 Desember 2011.
Menurut Purnomo, pembangunan tempat parkir kereta ini menjadi prioritas mengingat pada 2018 mendatang, diperkirakan akan ada 1.140 unit kereta yang tersedia di Jakarta. Dengan rincian, sekitar 160 unit kereta akan datang tiap tahun.
"Jadi dari 2012 hingga 2018, akan datang terus 160 kereta. Tidak mungkin diparkir di jalan kan kereta-kereta itu," tuturnya.
Beberapa titik yang dipersiapkan PT KA sebagai tempat parkir kereta antara lain Stasiun Bogor dengan kapasitas 70 unit kereta dan Stasiun Parung Panjang dengan kapasitas 50 unit kereta.
Selanjutnya, PT. KA akan menambah beberapa lokasi lagi yang memungkinkan untuk dijadikan parkir kereta.
"Di daerah Kota juga akan disediakan. Untuk kapasitasnya nanti disesuaikan saja," ungkapnya.
Purnomo juga memastikan tempat lain yang memungkin dijadikan tempat parkir kereta. Antara lain, stasiun yang berada di Nambo, Bogor, dengan kapasitas sebanyak 60 unit kereta. Namun hingga saat ini elektrifikasi di lokasi tersebut belum tersedia.
"Sampai saat ini kendala yang ada di lokasi tersebut adalah belum ada listrik aliran atas," tandasnya. (eh)
Tiket Kereta Api 23 Desember Ludes
VIVAnews - Menjelang perayaan Natal dan tahun baru, sebagian warga Jakarta dan sekitarnya sudah menyiapkan diri untuk berlibur.
Warga sengaja memanfaatkan momen itu untuk pulang ke kampung halaman. Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang diminati.
Dari jauh-jauh hari, mereka sudah memesan tiket. Bahkan, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, tiket keberangkatan kereta api bisnis dan eksekutif 23 Desember 2011, sudah habis dipesan.
"Mungkin itu waktu favorit, karena kebetulan jatuhnya hari Jumat. Sementara untuk 24 dan 25 Desember masih tersedia," kata Kepala Humas Daops I PT Kereta Api, Mateta Rizalulhaq, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Kamis 8 Desember 2011.
Menurut dia, tiket perjalanan yang sudah penuh dipesan yakni berbagai tujuan sejumlah kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dia mengungkapkan mulai 22 Desember hingga akhir tahun, PT KA menyiapkan sembilan ribu tiket per hari.
Mateta menambahkan, bila penumpang terus bertambah kemungkinan pihaknya akan menambah gerbong, dan juga tiket.
"Jadi kami memaksimalkan lokomotif. Paling setiap lokomotif ditambah satu gerbong," ucapnya. Keputusan berapa jumlah penambahan, kata dia, akan disampaikan pada Senin pekan depan.
Selain diperoleh secara online, lanjutnya, pemesanan dan pembelian tiket juga bisa dilakukan di kantor pos, minimarket yang bekerjasama dengan PT KA serta melalui ATM.
Meski begitu, ia memastikan tidak akan terjadi lonjakan penumpang karena tiket yang dijual sesuai dengan jumlah tempat duduk yang disediakan.
Satu gerbong mampu menampung hingga 50 penumpang. Biasanya, kisaran satu rangkaian kereta terdiri dari enam gerbong hingga tujuh gerbong yang berarti mampu mengangkut 300 hingga 350 orang. (adi)
• VIVAnewsOktober, Tak Ada Penumpang Berdiri di Kereta
VIVAnews - Mulai 1 Oktober 2011 mendatang PT Kereta Api (KA) hanya menjual tiket kereta sesuai jumlah tempat duduk yang ada. Hal ini berlaku untuk semua kelas kereta, baik eksekutif, bisnis, maupun ekonomi.
Semua penumpang yang naik dipastikan mendapat nomor tempat duduk dan duduk sesuai nomornya masing-masing. "Tidak lagi berjubel atau duduk di bawah sehingga tercipta suasana yang aman dan nyaman bagi penumpang," demikian seperti dikutip dari situs resmi PT KA, Selasa 27 September 2011.
Ketentuan tersebut tidak berlaku pada kereta api lokal yang melayani jarak dekat seperti KRDI, KRDE, KRD, dan KRL. Untuk mencegah penumpang tanpa karcis, sistem boarding masih akan diberlakukan, penumpang yang bertiket diperbolehkan masuk ke dalam peron maksimal 2 jam sebelum KA berangkat.
Selain itu, pemeriksaan serentak oleh petugas PT KA akan dilakukan secara lebih intensif.
Pelayanan penjualan karcis bisa dilakukan H-40 sebelum hari keberangkatan untuk KA kelas eksekutif dan bisnis melalui contact center 121, stasiun, agen, minimarket dan kantor pos.
Untuk KA ekonomi, tiket bisa dipesan H-7 di stasiun. Selain menjual tiket sesuai dengan tempat duduk, PT KA juga berencana akan memberikan fasilitas AC pada kereta ekonomi di tahun 2012 mendatang. (adi)
• VIVAnewsFoke Larang Warga Terapi di Atas Rel Kereta
VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengimbau kepada warga Jakarta agar tidak melanjutkan terapi pengobatan di atas rel kereta api Rawabuaya, Jakarta Barat. Selain tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis, terapi itu juga membahayakan keselamatan.
"Saya sudah minta kepada lurah dan camat untuk mengimbau warga agar tidak melakukan hal-hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan," ujar Fauzi Bowo di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat, 22 Juli 2011.
Fauzi Bowo bahkan membantah, alasan warga lebih memilih terapi pengobatan di rel listrik karena Puskesmas di wilayah mereka tidak dapat memberikan pelayanan optimal, khususnya bagi warga yang tidak mampu.
"Ini masalah orang yang mindsetnya keliru saja, dari dulu Puskesmas kecamatan kami dapat ISO, dan ISO bukan diberikan cuma-cuma, ada tes dan penilaiannya," katanya.
Indikator kesehatan masyarakat di Kota Jakarta bukan hanya bisa dilihat dari kondisi Puskesmas saja. Maka dari itu, lanjut dia, pilihan warga untuk mengikuti terapi pengobatan rel listrik itu harus diluruskan dan tidak bisa dikaitkan dengan asumsi rendahnya pelayanan kesehatan di Jakarta.
"Berulang kali saya sampaikan indikator keberhasilan kesehatan masyarakat di Ibukota Jakarta bukan hanya Puskesmas. Ada dari indikator lain lagi," kata dia.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menginstruksikan kepada petugas Puskesmas kelurahan dan kecamatan untuk memberikan penyuluhan terkait dengan terapi yang dilakukan warga.
"Pengobatan terapi dengan tidur di rel lebih banyak risikonya, serta membayakan diri sendiri dan orang lain," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati di Jakarta.
Dijelaskan Dien, hingga kini belum ada pernyataan atau penelitian yang menyatakan bahwa terapi rel listrik mampu menyembuhkan penyakit. Pihaknya mengimbau agar warga tidak melakukan terapi rel listrik itu lagi. (adi)