Ketua MA: Beli Suara Rp5 M, Itu Bunuh Diri
VIVAnews - Pemilihan Ketua Mahkamah Agung (MA) pada 8 Februari 2012 mendatang diwarnai isu suap. Kabar merebak satu suara hakim agung dihargai Rp5 miliar.
Ketua Mahkamah Agung, Harifin Andi Tumpa meminta hakim lain untuk waspada. Menurut Harifin, jika calon kandidat Ketua MA melakukan suap untuk membeli suara hakim, sama artinya dia bunuh diri sendiri dan tidak ada yang akan memilih.
"Tidak ada. Saya tidak bisa menjamin karena itu perbuatan individual, tapi saya tidak yakin itu ada," kata Harifin A Tumpa di Jakarta, Kamis 2 Februari 2012.
Salah satu kandidat yang juga Ketua Bidang Pengawasan MA, Hatta Ali, dituding melakukan politik uang untuk menduduki kursi Ketua MA. Bagi Harifin, tudingan itu karena adanya kepentingan si penuding. "Itu kan karena ada suatu tendensius," kata Harifin.
Hatta Ali sendiri pernah menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan lobi-lobi door to door dan politik uang dalam pemilihan ketua Mahkamah Agung yang akan diselenggarakan 8 Februari 2012 mendatang.
"Yang jelas saya tidak melakukan, politik uang juga tidak," kata Hatta Ali usai pembukaan Workshop on Judicial Integrity in Southeast Asia: Integrity-based Judicial Reform di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 26 Januari 2012.
Menurut dia, seorang hakim tidak mungkin tergoda oleh politik uang. "Tapi kalau soal duit rasanya tidak ada. Hakim agung itu kan semua tangguh, intelektual, tak mungkin lah mau tergoda," ujar dia.
Bagi Hatta, yang terpilih menjadi Ketua MA ke depan tentu yang terbaik menurut pandangan para hakim agung. Ia juga tidak mau berandai-andai apa yang akan dilakukan jika memang terpilih nantinya. (umi)
Mirwan Amir Bantah Ancam Bunuh Rosa
VIVAnews - Mindo Rosalina Manulang, terdakwa kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games, mengaku telah diancam sejumlah orang. Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI yang juga politisi Demokrat, Mirwan Amir, membantah kabar yang menyebutkan dialah salah satu pihak yang mengancam Rosa itu.
"Ada urusan apa ancam-mengancam? Tidak sampai ke situ pikiran kami," kata Mirwan di gedung DPR, Jakarta, Jumat 13 Januari 2012.
Nama dan keterlibatan Mirwan memang beberapa kali disebut dalam kasus ini oleh terdakwa dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Atas tuduhan ini, Mirwan sudah berkali-kali membantah.
Mirwan sendiri mengaku baru tahu bahwa Rosa diancam akan dibunuh. "Saya baru tahu ada berita Rosa diancam. Siapa yang mengancam, kita tidak tahu," katanya.
Kemarin, pengacara Nazaruddin, Hotman Paris Hutapea menyebut ada banyak pihak yang mengancam Rosa. Atas kabar yang menyatakan bahwa Nazaruddin juga merupakan salah satu pengancam itu, Hotman menyangkalnya. Dia menegaskan ada banyak orang yang punya kepentingan terhadap Rosa, bukan cuma kliennya.
"Dalam Berita Acara Pemeriksaan itu kan banyak nama orang tersangkut. Ada 'ketua besar', ada inisial, atau ada nama-nama saksi yang juga calon tersangka. Jadi kemungkinan yang mengancam itu semua orang itu, gitu lho," kata Hotman kepada VIVAnews.com, Kamis kemarin.
Saat ini, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban telah menempatkan Rosa di suatu tempat yang dirahasiakan, dipindahkan dari kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Kemarin, setelah kami berkoordinasi dengan KPK, Kementerian Hukum dan HAM serta pengacara, kami sudah memindahkan Rosa ke tempat yang aman," jelas Juru Bicara LPSK, Maharani Siti Sophia, kepada VIVAnews.com, Jumat, 13 Januari 2012. (kd)